Pistol atau senjata api yang biasa dipakai mata-mata secret service dsb



Seorang aparat intelijen atau agen intel sering kali berhadapan dengan situasi yang membahayakan dirinya, bahkan risiko kematian adalah konsekuensi yang sering kali harus dibayar. Untuk menghindari hilangnya nyawa saat bertugas, atau paling tidak meminimalisir kemungkinan gugur dalam tugas, setiap agen intel harus dibekali dengan kemampuan menggunakan senjata api.
Belakangan ini muncul isu di masyarakat mengenai adanya pengadaan 5000 pucuk senjata api oleh sebuah institusi yang bukan TNI ataupun Polri. Belakangan ternyata informasi yang cukup kontroversial itu adalah mengenai pembelian sekitar 500 pucuk senjata api buatan PT.Pindad yang akan digunakan dalam pendidikan intelijen oleh BIN, demikian sesuai keterangan dari Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan RI.
Jika melihat dari jenis senjata yang dibeli dari PT.PINDAD, adalah jenis senjata laras panjang dan laras pendek, bukan spesifikasi TNI, namun untuk kebutuhan operasional BIN.
Terlepas dari polemik pengadaan senjata api oleh sebuah institusi pemerintah yang tampaknya merupakan bumbu-bumbu perpolitikan di tanah air, kita mungkin tertarik akan satu hal, yaitu mengenai jenis dan tipe senjata api apa saja yang biasa digunakan oleh kalangan aparat intelijen dalam melaksanakan tugas rahasianya.
Berbicara tentang senjata api aparat intelijen tentu agak berbeda dengan jenis atau tipe senjata api yang digunakan oleh aparat TNI di medan pertempuran terbuka, atau anggota polisi yang tengah mengungkap sebuah kasus kriminal. Tentara sesuai dengan bidang tugasnya yang lebih mengedepankan show of force agar ditakuti lawan, maka perlu untuk memperlihatkan kekuatannya di mata musuh. Ini diperlukan agar musuh sedapat mungkin terpengaruh dengan power yang ditunjukkan.
Namun kondisi di atas agak berbeda ketika seorang agen intel yang tengah menyamar (undercover) melakukan aksinya. Ia harus dengan lihai menyembunyikan senjata apinya di sudut-sudut lekuk tubuhnya. Untuk itulah maka senjata yang digunakan oleh aparat intel pada umumnya agak berbeda dengan senjata api organik tentara maupun polisi. Tetapi dalam beberapa situasi tertentu, senjata api standard organik militer atau polisi, kerap kali tetap digunakan.
Berikut kita coba untuk ‘menguliti’ sedikit beberapa senjata api yang menjadi primadona para agen intel dalam melakukan tugas klandestinnya. Tulisan ini tidak ‘saklek’ seperti demikian di lapangan, karena pada kenyataannya seorang agen yang terjun ke arena tugas, secara fleksibel dapat memilih sendiri jenis senjata api yang mereka ingin bawa, bahkan bisa ganti-ganti model dan tipe yang sesuai selera si agen, selama persediaan masih ada.
1.    Sig P229
Senjata api laras pendek (sidearms) ini adalah menjadi primadona bagi sejumlah organisasi intelijen di Amerika. Sebut saja para agen Homeland Security, mereka menjadikan Sig P229 ini sebagai senjata api standard organik mereka.
Pistol semi-otomatis produk pabrikan Sig Sauer yang merupakan varian model pendahulunya, Sig P226 ini, mengusung amunisi kaliber 9x19mm dan .357 SIG.
P229 berukuran sedikit lebih kompak dibanding P226 dan sehingga sangat memungkinkan diperuntukkan sebagai conceal carry weapon, sedikit berbeda dengan P226 yang digunakan oleh polisi maupun senjata api militer lapangan.
SIG P229

SIG P229 (kiri) vs SIG P226 (kanan)
2.    Beretta 92 (M9)
Jenis pistol ini adalah senjata api organik militer-nya negeri Paman Sam. Ia digunakan oleh tentara Amerika sebagai sidearms-nya. Pistol jenis ini sesungguhnya lebih cocok digunakan sebagai senjata api lapangan. Selain karena ukurannya yang relatif gede dan panjang, pistol ini juga memuat banyak peluru. Ada 15 butir peluru ukuran 9x19mm yang berbaris zig-zag di dalam kotak magasennya.
Di tangan seorang agen intel, pistol ini hanya digunakan pada situasi di mana si agen tersebut tengah melakukan tugas di lapangan berdampingan dengan kalangan militer. Si agen intel tentu perlu menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, pistol ini lebih banyak diselipkan di pinggang atau di bawah ketiak yang dibungkus dalam holster ketimbang disembunyikan di balik baju.
Jika dalam operasi tertutup atau kegiatan undercover, pistol ini cukup sulit disembunyikan karena ukurannya, sehingga kurang sesuai digunakan dalam operasi intelijen. Tetapi toh pada kenyataan, para perwira CIA yang bertugas di medan tempur, lebih memilih pistol jenis ini.
Beretta M9

3.    Glock 19 atau Glock 36
Pabrik pistol Glock adalah termasuk pabrik senjata api laras pendek yang paling agresif dalam memproduksi senjata api genggam. Dengan andalan bentuknya yang simple dan bersifat kubikal, Glock banyak diminati oleh organisasi kepolisian di seluruh dunia. Tidak kurang dari 48 negara telah menggunakan produk Glock tersebut. Bukan saja oleh kalangan aparat, namun ternyata kalangan sipil pun banyak yang kepincut dengan pistol produksi Austria ini.
Salah satu keunggulan produk Glock sehingga menjadi trend adalah karena pistol ini dibuat ke dalam berbagai macam ukuran namun dengan tetap mempertahankan bentuk dasarnya yang persegi sebagai ciri khas Glock. Selain itu rangka dasar yang terbuat dari bahan polimer, yaitu campuran antara metal dan plastik, membuat pistol Glock relatif lebih ringan dibanding pistol merk lain.
Jika seorang agen intel akan melakukan tugas tertutup, maka pilihan Glock versi mungil, seperti Glock 19 atau Glock 36,  akan menjadi senjata api andalan dalam tugasnya.
GLOCK 19

GLOCK 36
4.   Colt 1911
Colt 1911 adalah senjata api genggam legendaris ciptaan John Moses Browning yang sudah berkiprah lebih dari satu abad. Kestabilan dan keandalan senjata api semi-otomatis ini telah dibuktikan di berbagai peperangan, mulai dari perang dunia ke-I, ke-II, perang Korea, perang Vietnam, hingga peperangan di abad milenium. Sehingga jasanya akan sulit dilupakan oleh kalangan militer maupun aparat intelijen.
Terlebih, Colt 1911 telah banyak dimodifikasi ke dalam berbagai varian untuk menyesuaikan dengan penggunaan masa kini, selain lebih ringan dan lebih kecil, Colt versi modifikasi juga dapat menampung lebih banyak amunisi. Awalnya Colt 1911 ini dirancang dengan susunan amunisi lurus yang hanya berkapasitas 7 butir, kini dengan susunan amunisi double-stacked (zig-zag), kotak magasennya dapat menampung hingga 14 butir peluru kaliber .45 ACP.
Dalam melaksanakan tugas-tugas tertutup, para petugas intel sering kali membekali dirinya dengan pistol Colt 1911 ini, tentu dengan versi modifikasinya yang lebih pendek ketimbang versi aslinya agar mudah disembunyikan.

COLT 1911
COLT 1911

 
COLT 1911 versi modifikasi

5.    Walther PP
Walther PP adalah pistol legendaris sejak perang dunia ke-2. Bentuknya yang mungil telah menjadi andalan para agen spionase di berbagai negara. Ukurannya yang segenggaman orang dewasa menjadi keuntungan bagi aparat intel yang membawanya, tentu karena akan mudah diselipkan di balik baju atau bahkan dengan holster khusus, diselipkan di balik celana di betis kaki.
Bahkan bobotnya yang cukup ringan, membuat para agen intelijen wanita banyak yang kedapatan menyembunyikan pistol nan mungil ini di paha bagian dalam di balik roknya.
Walaupun kecil, namun dengan rancangan negeri Jerman ini, Walther PP mempunyai daya impact yang sangat mengagumkan.
Bahkan rumor pada momen menyerahnya pasukan Nazi Jerman kepada sekutu di akhir perang dunia-2, Hitler bunuh diri dengan menembakkan pistol jenis ini ke kepalanya. Namun rumor belakangan ini menyangsikan aksi bunuh diri Hitler pada momen tersebut.
Keandalan pistol ini juga telah membuat para sineas film fiksi James Bond, agen 007, menggunakan pistol Walther PPK di banyak adegannya. Seperti ingin memberikan label bahwa Walther PPK adalah pistol andalan para agen spionase tingkat dunia.
Sesungguhnya Walther PPK adalah versi standard polisi Jerman. Tambahan huruf “K” pada PPK, adalah inisial dari kata “Kurz” yang berarti “pendek”.
 
Walther PP/PPK
6.    Makarov 9x18mm
Pistol semi-otomatis produk negeri beruang merah ini, tidak dapat dipungkiri keandalannya. Dari mulai polisi hingga pasukan khusus militer Rusia dan negara-negara blok timur, pernah menggunakan pistol jenis ini. Tidak disangsikan lagi para agen KGB sangat kesengsem dengan pistol jenis Makarov ini.
Ukurannya yang mungil, yang semestinya lebih cocok digunakan untuk operasi klandestin tertutup, tidak membuat pihak militer melupakan keandalan pistol Makarov ini. Oleh karena ini kita sering lihat di film-film layar lebar bahwa peran seorang perwira militer selalu menyandang pistol ini.
Walaupun rancangan dasarnya mengikuti rancangan pistol Walther PPK, namun dengan desain yang lebih kompak, Makarov lebih menjadi andalan sebagai senjata api organik negara-negara blok timur. Bahkan TNI di beberapa kesatuan, masih menggunakan pistol produk negeri eks Uni Soviet ini.

MAKAROV kal. 9x18mm
7.    P2 (Pindad)
Pistol semi-otomatis karya anak bangsa ini, pernah dan mungkin saja masih menjadi andalan petugas intelijen di tanah air. Penggunaan pistol P2 ini tampaknya lebih menjunjung tinggi aspek kebanggaan terhadap produk domestik. Karena pistol P2 ini sesungguhnya lebih sesuai untuk senjata api pertempuran, mengingat ukuran dan bobotnya yang relatif besar dan berat, walau daya tembusnya tidak diragukan lagi.
Namun sejalan dengan visi dan misi pimpinan lembaga intelijen di tanah air, kini cukup banyak jenis dan tipe senjata api yang bisa dipilih dan digunakan oleh para agen intelijennya.
PINDAD P2
8.    Browning Hi-Power
Pistol hasil karya John Moses Browning yang mulai naik produksi tahun 1935 ini, mirip dengan kakak kandungnya Colt 1911. Mereka sama-sama memiliki keandalan tinggi dan telah memiliki kiprah di dunia pertempuran yang cukup panjang. Bahkan kehebatannya masih tetap menjadi tumpuan di sejumlah kesatuan militer dunia, tidak terkecuali Indonesia.
Pistol Browning Hi-Power (Browning HP) ini sering menjadi senjata api sebagai kelengkapan petugas intel dari kalangan militer tanah air. Bentuknya yang cukup ramping namun tetap memiliki jiwa sebagai senjata api pertempuran, membuat pistol ini dapat secara fleksibel digunakan, baik untuk tugas-tugas pertempuran, maupun tugas klandestin tertutup.
Browning HP, mampu melesatkan peluru dari moncongnya sejauh 50 meter. Dan dengan kaliber 9x19mm parabellum, kotak magasennya dapat menampung hingga 13 hingga 15 butir peluru sekaligus.
Pada aspek penggunaan, Browning HP ini adalah sesungguhnya sebagai jawaban atas kebutuhan akan senjata api genggam oleh militer Perancis. Namun pistol ini juga dilempar ke pasar sipil, hingga banyak digunakan oleh organisasi kriminal, mafia dan gangster pada sekitar akhir tahun 1930-an di Amerika.
Yang lebih unik lagi, pada era perang dunia ke-2, Browning HP digunakan oleh kedua kubu yang berseteru, baik sekutu maupun Nazi Jerman. Ini dikarenakan ketika pasukan Hitler berhasil mengokupasi Belgia di mana pabrik pistol Browning berada, maka setelah pabrik senjata api tersebut dikuasai, pasukan Jerman pun menggunakan Browning HP disamping pistol Luger yang juga melegenda.
 
Browning Hi-Power
9.    H&K MP5 Sub-Machine Gun
Di samping senjata api laras pendek, organisasi intel pun melengkapi operasinya dengan senjata api otomatis. Senjata api otomatis, atau biasa disebut sub-machine gun ini, digunakan pada operasi-operasi khusus, seperti pengamanan pada penangkapan seorang agen lawan, atau operasi khusus berkelompok yang membutuhkan power lebih besar ketimbang sebuah senjata api laras pendek.
Sebut saja senapan otomatis MP5. Senjata produk pabrikan Heckler & Koch Jerman ini telah diproduksi sejak tahun 1966. Dengan menggunakan amunisi yang sama dengan yang digunakan oleh pistol semi-otomatis kebanyakan, yaitu kaliber 9x19mm parabellum, membuat MP5 banyak diminati oleh pasukan khusus, tidak terkecuali Navy SEAL Amerika, bahkan Kopassus TNI AD.
Beratnya yang hanya 2,5 sampai 3 kg dan panjangnya yang hanya sekitar 70 cm ini, membuat MP5 praktis dibawa dan digunakan sebagai senjata api pada perang kota (urban warfare) dan pada pertempuran CQB (Closed Quarter Battle) dalam misi penumpasan teroris.
 
H&K MP5
. 10. UZI Sub-Machine Gun
Hampir tidak ada yang tidak mengenal senapan UZI. Senapan karya negeri zionis Israel ini, banyak digunakan oleh organisasi keamanan negara, disamping pula digunakan oleh kalangan militer. Bentuknya yang unik dan kompak, membuat banyak negara meminati senapan otomatis ini.
Berbeda dari senapan otomatis kebanyakan yang memisahkan antara pistol grip dan kotak magasen, UZI justru menyatukan keduanya. Rancangan ini cukup revolusioner pada masanya yang memiliki andil dalam memperkecil panjang keseluruhannya.
UZI sangat populer digunakan pada operasi-operasi tertutup, karena panjangnya yang hanya 44cm (tanpa popor lipat), dan kotak magasen berkapasitas 30 butir peluru, membuat senapan otomatis ini mudah disembunyikan di balik jaket atau jas seorang agen.
Di dalam kemungilannya, UZI mengusung mekanisme penembakan blowback action. Dan dengan amunisi kaliber 9x19mm yang banyak ditemukan di pasaran, UZI memiliki kecepatan rata-rata tembakan 600 butir/ menit. Dengan rate of fire tersebut, butir peluru yang melesat dari moncong UZI, memiliki kecepatan sebesar 400 meter per detik. Kelebihan ini lah yang menyebabkan UZI menjadi favorit di kalangan militer, polisi dan badan intelijen, bahkan semenjak pertama diproduksi pada awal tahun 1950-an, UZI sudah diproduksi lebih dari 10 juta unit.
 
UZI
Catatan :
  • Di beberapa situs disebutkan adanya penggunaan senjata rahasia bak di film-film spionase, seperti senapan laras panjang berbentuk gagang payung, atau pistol berbentuk kotak rokok dan lain sebagainya. Gambaran-gambaran tersebut memang ada di kehidupan nyata, namun tidak semua agen lapangan dibekali senjata-senjata rahasia jenis tersebut.

  • Dalam menghadapi situasi yang tidak terduga, seorang agen intel harus mampu menggunakan berbagai senjata api, oleh karena itu, dalam masa pendidikan dasar intelijen, seorang taruna intelijen diperkenalkan dengan segala macam senjata api, baik laras pendek maupun panjang.